Luas dan tingkat kepemimpinan
tercermin dari luas dan tingginya pemikiran dan doa yang dia panjatkan. Semakin
luas yang dia fikir dan doakan semakin luas wilayah kepemimpinannya. Seorang
bujangan berfikir dan berdoa bagaimana mengenai kebaikan dirinya. Seorang
kepala rumah tangga berfikir dan berdoa untuk seluruh anggota keluarganya.
Seorang kepala RT berfikir dan berdoa untuk kebaikan masyarakat di wilayahnya.
Seorang bupati berfikir dan berdoa untuk seluruh kabupatennya. Seorang gubernur
berfikir dan berdoa untuk kebaikan seluruh propinsinya. Seorang kepala negara
berfikir dan berdoa untuk kebaikan seluruh negaranya. Seorang pemimpin umat
berfikir dan berdoa untuk seluruh umatnya agar bahagia didunia dan akherat.
Namanya pemimpin tidak harus
secara formal menduduki suatu kursi kepemimpinan. Sepanjang dia berfikir dan
berdoa sesuai dengan level luas wilayahnya maka dia sebenarnya berpredikat
pemimpin untuk wilayah tersebut. Yang aneh adalah seseorang yang statusnya
formil dan jelas didukkan sebagai pemimpin wilayah yang luas malah turun
derajatnya karena begitu dia memimpin porsi yang besar justru berfikir hanya
untuk kepentingan diri dan keluarganya. Pemimpin seperti ini jelas sebenarnya
sudah batal menjadi pemimpin dia harus dikembalikan ke pemimpin keluarganya
saja atau belajar memimpin diri sendiri lagi. Itu juga yang terjadi pada
pemimpin yang bermasalah karena dia lupa akan wilayah yang harus diembannya.
Rosulullah mengajarkan kita untuk selalu jangan hanya
berfikir dan berdoa hanya untuk diri sendiri tetapi hendaklah senantianya
menyebutkan keselamatan umat pria dan wanita, bahkan yang telah meninggalpun
didoakan. Rosulullah sebagai teladan sudah memberi contoh dalam keseharian
untuk senantiasa berfikir berdoa dan bergerak untuk keselamatan umat. Hingga
terbawa ketika menjelang wafatpun porsi fikir dan doa Beliau untuk keselamatan
umat. Umatku....umatku sholatlah. (wallahu
a’lam bish-shawab)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar