Jumat, 03 Agustus 2012

MEMANCING


Ada sebuah kolam kecil dibelakang rumah yang saya beri ikan nila. Dan saat ini populasi nila ketambahan dengan kehadiran ikan ikan kecil dari anakan ikan nila yang dulu saya sebar. Saya bermaksud mengurangi populasi ikan itu supaya ada kesempatan yang kecil bisa tumbuh besar. Maka terfikir bagaimana caranya? Mau dikuras berarti juga menguras tenaga apalagi sedang puasa, dan juga saya kasihan dengan terganggunya suasana kolam. Akhirnya diputuskan untuk dipancing saja. Ketika saya putuskan dipancing saja anak-anak sangat antusias menyambutnya. Maka mulailah saya beli alat pancing. 
 
Acara memancingpun dimulai. Setelah mengamati seharian bagaimana aktifitas memancing anak,  saya temukan beberapa hal positip dari kegiatan memancing tersebut.
Pertama, melatih kesabaran. Begitu mata kail di masukkan kekolam tidak serta merta mata kail tersebut ditangkap ikan, harus menunggu beberapa saat. Baru kemudian ada ikan yang mengenali umpan tersebut dan mulai menarik umpan yang diberikan. Dan ketika pancing ditarik belum tentu langsung dapat ikan, yang terjadi umpannya kadang habis tanpa diikuti keberhasilan mengail ikannya. Dan itu diulang beberapa kali. Apa yang terjadi dengan kegiatan anak saya? Sepulang sekolah jam 11 biasanya anak saya yang masih di kelas 2 ini menunggu nunggu adhan dhuhur untuk membatalkan puasa. Dan sambil menunggu adhan dimulailah acara memancing. Ketika terdengar adzan dhuhur saya break aktifitas mancingnya untuk sholat. Rupanya setelah sholat, anak saya cepat-cepat ingin memulai memancing lagi. Dengan kesabaran menunggu akhirnya berhasil juga , dapatlah seekor ikan. Hal tersebut menambah senangnya anak saya hingga lupa akan makan dhuhur. Sampai kegiatan tersebut berakhir  jam 3. Kemudia saya tanya gimana dik kalau puasanya dilanjut sampai sore? Ternyata diapun setuju. Maka berhasillah dia bisa puasa sore. Konon katanya orang yang paling hobi mancing adalah orang Inggris, dan biasanya melibatkan orang tua dan anaknya. Dan ada indikasi kebiasaan memancing itu berimbas pada kemampuan untuk bisa antre secara tertip di masyarakat.
Kedua, melatih tidak merusak alam. Ada aturan yang saya masukkan dalam memancing. Yaitu yang boleh dipancing adalah ikan dengan ukuran 10 cm keatas. Kalau kurang dari ukuran itu kebetulan kena pancing harus dikembalikan. Tentu saja dengan ukaran mata kail yang sudah tertentu, kemungkinan mendapat ikan yang ukuranya kecil dapat dihindari. Aturan tersebut saya sampaikan karena terinspirasi dengan kegiatan orang Australia memancing di sungai. Saya melihat sungai di sana sangat terawat bersih dari sampah, dan ketika melongok kedalam kita bisa lihat kura-kura, ikan dan binatang air seliweren. Ditambah lagi diatasnya banyak burung bebas terbang dan kadang ditemui angsa yang lagi main, jadi indah sekali. Maka wajar kalau disana daerah perumahan yang mahal adalah daerah river side. Kembali ke acara mancing, apakah disana boleh mancing ikan. Boleh, tapi ada aturannya. Ikan jenis tertentu hanya boleh dipancing bila ukuran diatas 30 cm sd 60 cm. Mengapa demikian, alasannya ikan yang kurang 30cm masih dianggap anakan, sedang yang 60cm lebih dianggap indukaan. Dan itu diterapkan dalam aturan dan ada polisi yang mengawasi sungai. Coba bandingkan dengan yang ada pada bangsa kita. Bagaiman cara mengambil ikan. Biasanya diracun atau di setrum. Apa yang terjadi? Yang ukuran dibawah umur juga mati, bahkan yang bukan untuk dimakan juga mati. Dan kejadian itu terus menerus seolah ada pembiaran. Akibatnya sekarang sungai kita jadi sepi dari makhluq hidup.


Mudah-mudahan tulisan memancing tersebut bisa memancing tumbuhnya karakter yang baik dari bangsa ini. (wallahu a’lam bish-shawab)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar