Ada sebuah kolam kecil dibelakang
rumah yang saya beri ikan nila. Dan saat ini populasi nila ketambahan dengan
kehadiran ikan ikan kecil dari anakan ikan nila yang dulu saya sebar. Saya
bermaksud mengurangi populasi ikan itu supaya ada kesempatan yang kecil bisa tumbuh
besar. Maka terfikir bagaimana caranya? Mau dikuras berarti juga menguras
tenaga apalagi sedang puasa, dan juga saya kasihan dengan terganggunya suasana
kolam. Akhirnya diputuskan untuk dipancing saja. Ketika saya putuskan dipancing
saja anak-anak sangat antusias menyambutnya. Maka mulailah saya beli alat pancing.
Acara
memancingpun dimulai. Setelah mengamati seharian bagaimana aktifitas memancing
anak, saya temukan beberapa hal positip
dari kegiatan memancing tersebut.
Pertama, melatih kesabaran.
Begitu mata kail di masukkan kekolam tidak serta merta mata kail tersebut
ditangkap ikan, harus menunggu beberapa saat. Baru kemudian ada ikan yang
mengenali umpan tersebut dan mulai menarik umpan yang diberikan. Dan ketika pancing
ditarik belum tentu langsung dapat ikan, yang terjadi umpannya kadang habis
tanpa diikuti keberhasilan mengail ikannya. Dan itu diulang beberapa kali. Apa
yang terjadi dengan kegiatan anak saya? Sepulang sekolah jam 11 biasanya anak
saya yang masih di kelas 2 ini menunggu nunggu adhan dhuhur untuk membatalkan
puasa. Dan sambil menunggu adhan dimulailah acara memancing. Ketika terdengar
adzan dhuhur saya break aktifitas mancingnya untuk sholat. Rupanya setelah
sholat, anak saya cepat-cepat ingin memulai memancing lagi. Dengan kesabaran
menunggu akhirnya berhasil juga , dapatlah seekor ikan. Hal tersebut menambah
senangnya anak saya hingga lupa akan makan dhuhur. Sampai kegiatan tersebut
berakhir jam 3. Kemudia saya tanya
gimana dik kalau puasanya dilanjut sampai sore? Ternyata diapun setuju. Maka
berhasillah dia bisa puasa sore. Konon katanya orang yang paling hobi mancing
adalah orang Inggris, dan biasanya melibatkan orang tua dan anaknya. Dan ada indikasi
kebiasaan memancing itu berimbas pada kemampuan untuk bisa antre secara tertip
di masyarakat.
Kedua, melatih
tidak merusak alam. Ada aturan yang saya masukkan dalam memancing. Yaitu yang
boleh dipancing adalah ikan dengan ukuran 10 cm keatas. Kalau kurang dari ukuran
itu kebetulan kena pancing harus dikembalikan. Tentu saja dengan ukaran mata
kail yang sudah tertentu, kemungkinan mendapat ikan yang ukuranya kecil dapat
dihindari. Aturan tersebut saya sampaikan karena terinspirasi dengan kegiatan
orang Australia memancing di sungai. Saya melihat sungai di sana sangat terawat
bersih dari sampah, dan ketika melongok kedalam kita bisa lihat kura-kura, ikan
dan binatang air seliweren. Ditambah lagi diatasnya banyak burung bebas terbang
dan kadang ditemui angsa yang lagi main, jadi indah sekali. Maka wajar kalau
disana daerah perumahan yang mahal adalah daerah river side. Kembali ke acara
mancing, apakah disana boleh mancing ikan. Boleh, tapi ada aturannya. Ikan
jenis tertentu hanya boleh dipancing bila ukuran diatas 30 cm sd 60 cm. Mengapa
demikian, alasannya ikan yang kurang 30cm masih dianggap anakan, sedang yang
60cm lebih dianggap indukaan. Dan itu diterapkan dalam aturan dan ada polisi
yang mengawasi sungai. Coba bandingkan dengan yang ada pada bangsa kita.
Bagaiman cara mengambil ikan. Biasanya diracun atau di setrum. Apa yang
terjadi? Yang ukuran dibawah umur juga mati, bahkan yang bukan untuk dimakan
juga mati. Dan kejadian itu terus menerus seolah ada pembiaran. Akibatnya
sekarang sungai kita jadi sepi dari makhluq hidup.
Mudah-mudahan tulisan memancing tersebut bisa memancing tumbuhnya karakter yang baik dari bangsa ini. (wallahu a’lam bish-shawab)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar