Mungkin kita sudah sering dan
familier dengan peribahasa diatas. Yang
artinya disana ada uang atau rizki disana orang berdatangan. Saya tidak tahu kapan peribahasa itu muncul.
Yang jelas bangsa kita sudah mengenal peribahasa itu sudah lama sekali, dan itu
merupakan hasil pengamatan yang mendalam sebuah tindakan yang dilakukan manusia
Indonesia.
Trend naiknya jumlah TKI itu bisa
juga dipahami dari peribahasa Ada Gula Ada
Semut. Karena gula-gula lebih banyak ada di luar negeri maka yang terjadi
adalah. Keluarnya bangsa kita pergi keluar unrtuk mencari gula gula yang ada di
sana. Gimana untuk mengurangi jumlah warga yang menjadi TKI, mau tak mau harus
kita optimalisasikan potensi bangsa ini sehingga banyak gula muncul di
Indonesia.
Tapi saya merasa aneh dengan
bangsa kita, kadang bangsa lain tahu posisi gula gula ditempat kita tapi kita
sendiri tidak tahu. Buktinya banyak bangsa lain datang ke Indonesia karena tahu
gula yang ada di Indonesia. Contohnya kedatangan Belanda ke Indonesia ini karena
dia tahu ada gula yang bernama rempah-rempah di Indonesa. Demikian juga
pertambangan kita banyak dikelola oleh asing bahkan di sektor perkebunan juga
justru banyak orang asing yang ikut mengelola saat ini. Dan sebenarnya indikasi
mengenai masalah ini nenek moyang kita juga sudah mengenalnya. Dengan
peribahasa berkaitan dengan semut juga yang berbunyi Gajah dipelupuk mata tidak kelihatan, tapi semut diseberang lautan
tampak kelihatan. Itu juga mungkin gambaran tingkah polah bangsa ini. Ada
rizki yang kecil di negara lain yang kita kejar padahal kita punya potensi
besar yang ada di depan kita malah tidak kita garap. Untung kita belum masuk ke
peribahasa. Ayam di lumbungpadi mati
kelaparan.....wah payah kalau itu terjadi.
Kalau kita bisa membuat gula gula
di Indonesia dengan baik dan bisa menggunakan mata kita menantap normal, tidak
berakomodasi maksimum alias memicingkan, maka yang dekat akan kelihatan dan
insyaAllah program tranmigrasi akan sukses. Dulu saya masih ingat.....kalau ada
program transmigrasi itu kasihan banget. Karena yang ditransmigrasikan adalah
orang orang yang lemah dan pinggiran. Mesti sering kali hujan tangis
menyertainya. Karena apa? Karema dia tidak siap untuk transmigrasi. Kenapa
tidak siap karena memang dari sisi mental dan pendidikan mereka tidak memenuhi
syarat. Bayangkan andaikata saat itu program transmigrasi dirubah istilahnya
dengan program apresiasi kecakapan
yang ditujukan kepada anak anak yang berprestasi dari berbagai bidang ilmu dengan
upah yang tinggi apabila dia mampu melaksanakan kita apresiasi bak pahlawan maka
insyaAllah berhasil.
Maksudnya gimana....? kok mbulet.
Maksudnya adalah kita programkan yang kita kirim untuk membuka daerah baru
adalah anak anak yang pinter dan cerdas cerdas serata berkarakter baik. Maka
ditempat baru dia akan mudah menyeusaikan. Ada yang dari sarjana teknik,
sarjana kesehatan, sarjana pertanian, sarjana pertambangan, sarjana komunikasi
dll...yang terpilih. Kita minta dia untuk menyeting daerah di kepulauan kita
yang belum tergarap maka akan lain hasilnya. Bagi anak pinter dia membuka lahan
tidak dengan arit atau cangkul, dia mesti mendatangkan alat berat. Dia tidak
akan merasa kesepian karena daerah itu akan dipasang alat komunikasi sehingga
dia bisa berkomunikasi dengan deerah lain. Untuk transportiasi dia bisa
melakukan lewat jalur yang pas bisa lewat darat dengan membuka jalan, laut,
sungai atau udara. Apalagi dia mendapat suport dana dan predikat bak pahlawan
maka luar biasa. Dan saya yakin kalau daerah itu sudah terbentuk maka gula akan
ada disana sebentar lagi semut-semut akan berdatangan ndak usah disuruh atau
dipaksa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar