Minggu, 09 September 2012

ADA GULA ADA SEMUT


Mungkin kita sudah sering dan familier dengan peribahasa diatas.  Yang artinya disana ada uang atau rizki disana orang berdatangan.  Saya tidak tahu kapan peribahasa itu muncul. Yang jelas bangsa kita sudah mengenal peribahasa itu sudah lama sekali, dan itu merupakan hasil pengamatan yang mendalam sebuah tindakan yang dilakukan manusia Indonesia.
Trend naiknya jumlah TKI itu bisa juga dipahami dari peribahasa Ada Gula Ada Semut. Karena gula-gula lebih banyak ada di luar negeri maka yang terjadi adalah. Keluarnya bangsa kita pergi keluar unrtuk mencari gula gula yang ada di sana. Gimana untuk mengurangi jumlah warga yang menjadi TKI, mau tak mau harus kita optimalisasikan potensi bangsa ini sehingga banyak gula muncul di Indonesia.
Tapi saya merasa aneh dengan bangsa kita, kadang bangsa lain tahu posisi gula gula ditempat kita tapi kita sendiri tidak tahu. Buktinya banyak bangsa lain datang ke Indonesia karena tahu gula yang ada di Indonesia. Contohnya kedatangan Belanda ke Indonesia ini karena dia tahu ada gula yang bernama rempah-rempah di Indonesa. Demikian juga pertambangan kita banyak dikelola oleh asing bahkan di sektor perkebunan juga justru banyak orang asing yang ikut mengelola saat ini. Dan sebenarnya indikasi mengenai masalah ini nenek moyang kita juga sudah mengenalnya. Dengan peribahasa berkaitan dengan semut juga yang berbunyi Gajah dipelupuk mata tidak kelihatan, tapi semut diseberang lautan tampak kelihatan. Itu juga mungkin gambaran tingkah polah bangsa ini. Ada rizki yang kecil di negara lain yang kita kejar padahal kita punya potensi besar yang ada di depan kita malah tidak kita garap. Untung kita belum masuk ke peribahasa. Ayam di lumbungpadi mati kelaparan.....wah payah kalau itu terjadi.
Kalau kita bisa membuat gula gula di Indonesia dengan baik dan bisa menggunakan mata kita menantap normal, tidak berakomodasi maksimum alias memicingkan, maka yang dekat akan kelihatan dan insyaAllah program tranmigrasi akan sukses. Dulu saya masih ingat.....kalau ada program transmigrasi itu kasihan banget. Karena yang ditransmigrasikan adalah orang orang yang lemah dan pinggiran. Mesti sering kali hujan tangis menyertainya. Karena apa? Karema dia tidak siap untuk transmigrasi. Kenapa tidak siap karena memang dari sisi mental dan pendidikan mereka tidak memenuhi syarat. Bayangkan andaikata saat itu program transmigrasi dirubah istilahnya dengan program apresiasi kecakapan yang ditujukan kepada anak anak yang berprestasi dari berbagai bidang ilmu dengan upah yang tinggi apabila dia mampu melaksanakan kita apresiasi bak pahlawan maka insyaAllah berhasil.
Maksudnya gimana....? kok mbulet. Maksudnya adalah kita programkan yang kita kirim untuk membuka daerah baru adalah anak anak yang pinter dan cerdas cerdas serata berkarakter baik. Maka ditempat baru dia akan mudah menyeusaikan. Ada yang dari sarjana teknik, sarjana kesehatan, sarjana pertanian, sarjana pertambangan, sarjana komunikasi dll...yang terpilih. Kita minta dia untuk menyeting daerah di kepulauan kita yang belum tergarap maka akan lain hasilnya. Bagi anak pinter dia membuka lahan tidak dengan arit atau cangkul, dia mesti mendatangkan alat berat. Dia tidak akan merasa kesepian karena daerah itu akan dipasang alat komunikasi sehingga dia bisa berkomunikasi dengan deerah lain. Untuk transportiasi dia bisa melakukan lewat jalur yang pas bisa lewat darat dengan membuka jalan, laut, sungai atau udara. Apalagi dia mendapat suport dana dan predikat bak pahlawan maka luar biasa. Dan saya yakin kalau daerah itu sudah terbentuk maka gula akan ada disana sebentar lagi semut-semut akan berdatangan ndak usah disuruh atau dipaksa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar